Caleg Gagal II
Setelah kekalahan itu, kesempatan menjadi anggota OSIS tidak lantas hilang. Masing-masing ekskul wajib mengirimkan dua anggotanya di posisi Ketua Sekbid (kelas XI) dan Wakil Ketua Sekbid (kelas X). Aku ragu-ragu untuk mencalonkan diri lagi. Namun orang-orang disekitarku mendukung penuh, termasuk Windy. Windy memintaku untuk melanjutkan usahaku di ekskul PMR yang aku ikuti. Sedangkan dia tetap mencoba di ekskulnya, KIR, meski dia tahu ada orang lain yang disebut-sebut menjadi calon kuat. Benar saja, Windy tidak menjadi yang terpilih dari ekskulnya dan aku berhasil diutus menjadi Wakil Ketua Sekbid 07 mewakili PMR di OSIS.
Ini foto pelantikan OSIS Angkatan 28 yang menjadi awal tanggung jawabku atas PMR maupun OSIS sendiri. Di hadapan warga sekolah, dengan penuh bangga dan suara lantang 32 orang ini mengucapkan janji yang harus dipenuhi selama masa jabatan. Satu tahun berlalu, masa jabatanku hampir berakhir.
Dengan berakhirnya masa jabatan itu, tentulah harus ada penerus yang menggantikan. Dan saat itulah aku kembali mencoba peruntungan dengan mengikuti kembali tes perangkat inti OSIS. Aku dan beberapa teman lain yang sudah tergabung dalam OSIS mendapat golden ticket untuk langsung mengikuti tes tertulis. Berhubung aku sudah dipastikan lolos, aku mendukung penuh Windy untuk mewakili kelas. Kali ini keberuntungan berpihak padanya. Windy lolos dari kelas. Aku dan Windy mengikuti tes tertulis dan tes wawancara dengan berbagai pro kontra. Tak jarang, status kembarku menjadi bahan untuk menjatuhkanku. Sampai di tahap terakhir, aku dan Windy tetap berjuang bersama dalam satu koalisi.
KOALISI 1
Di koalisi ini aku mendapat posisi sebagai Wakil Sekretaris I dan Windy sebagai Bendahara. Lagi-lagi koalisi yang aku miliki adalah koalisi andalan. Bahkan koalisi ini lebih kuat dibanding koalisiku sebelumnya. Semua orang sudah meyakini kemenangan kami. Sayangnya, yang namanya persaingan tetap tidak bisa dianggap enteng. Dua koalisi lain tidak kalah hebat. Semuanya memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing.
Tibalah saat yang ditunggu, hari puncak yang menjadi penentuan. Setelah semua koalisi berkampanye dan diisolasi, Ketua OSIS dan Wakil Ketua OSIS I kami yang merupakan anggota ekskul paskib diminta untuk mengikuti lomba. Kami kembali ditinggalkan oleh pecong koalisi ini. Kami biarkan mereka berjuang mengharumkan nama sekolah dengan kata terakhir yang diucapkan, CEMUNGUTT!!!!! Aku sering tersenyum mengingatnya.
Sayangnya, saat pemungutan suara, mereka berdua tidak bisa memberikan hak suara mereka. Sudah meminta kebijaksanaan panitia, suara mereka tetap hilang. Sekitar dua menit sebelum pengumuman, aku melihat status Facebook salah satu anggota MPK yang menghitung suara, mengatakan bahwa Koalisi 2 lah yang menang. Rasa kecewa mulai muncul, meski harapan itu masih ada. Panitia memasuki ruangan dan menuliskan hasil di papan tulis. Kami yang sebelumnya menutup mata, membuka mata dengan perasaan cemas.
Koalisi 1 : 339
Koalisi 2 : 341
Koalisi 3 : 1** (lupa)
SMA N 8 Palembang menjadi heboh. Banyak yang menyesali kekalahan kami. Tidak peduli dengan penyesalan mereka, merekalah pembuat penyesalan itu. Yang menyebalkan adalah mendengar teman-teman yang pro dengan koalisi kami justru tidak menyontreng atau bahkan menyontreng koalisi lain dengan alasan, mereka yakin kami pasti menang.
Ternyata 2 suara itu sangat berarti. Kami kalah tipis. Apapun itu namanya, kalah telak ataupun kalah tipis, tidak ada bedanya. Intinya adalah kalah.
Ini foto pelantikan OSIS Angkatan 28 yang menjadi awal tanggung jawabku atas PMR maupun OSIS sendiri. Di hadapan warga sekolah, dengan penuh bangga dan suara lantang 32 orang ini mengucapkan janji yang harus dipenuhi selama masa jabatan. Satu tahun berlalu, masa jabatanku hampir berakhir.
Dengan berakhirnya masa jabatan itu, tentulah harus ada penerus yang menggantikan. Dan saat itulah aku kembali mencoba peruntungan dengan mengikuti kembali tes perangkat inti OSIS. Aku dan beberapa teman lain yang sudah tergabung dalam OSIS mendapat golden ticket untuk langsung mengikuti tes tertulis. Berhubung aku sudah dipastikan lolos, aku mendukung penuh Windy untuk mewakili kelas. Kali ini keberuntungan berpihak padanya. Windy lolos dari kelas. Aku dan Windy mengikuti tes tertulis dan tes wawancara dengan berbagai pro kontra. Tak jarang, status kembarku menjadi bahan untuk menjatuhkanku. Sampai di tahap terakhir, aku dan Windy tetap berjuang bersama dalam satu koalisi.
KOALISI 1
Di koalisi ini aku mendapat posisi sebagai Wakil Sekretaris I dan Windy sebagai Bendahara. Lagi-lagi koalisi yang aku miliki adalah koalisi andalan. Bahkan koalisi ini lebih kuat dibanding koalisiku sebelumnya. Semua orang sudah meyakini kemenangan kami. Sayangnya, yang namanya persaingan tetap tidak bisa dianggap enteng. Dua koalisi lain tidak kalah hebat. Semuanya memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing.
Tibalah saat yang ditunggu, hari puncak yang menjadi penentuan. Setelah semua koalisi berkampanye dan diisolasi, Ketua OSIS dan Wakil Ketua OSIS I kami yang merupakan anggota ekskul paskib diminta untuk mengikuti lomba. Kami kembali ditinggalkan oleh pecong koalisi ini. Kami biarkan mereka berjuang mengharumkan nama sekolah dengan kata terakhir yang diucapkan, CEMUNGUTT!!!!! Aku sering tersenyum mengingatnya.
Sayangnya, saat pemungutan suara, mereka berdua tidak bisa memberikan hak suara mereka. Sudah meminta kebijaksanaan panitia, suara mereka tetap hilang. Sekitar dua menit sebelum pengumuman, aku melihat status Facebook salah satu anggota MPK yang menghitung suara, mengatakan bahwa Koalisi 2 lah yang menang. Rasa kecewa mulai muncul, meski harapan itu masih ada. Panitia memasuki ruangan dan menuliskan hasil di papan tulis. Kami yang sebelumnya menutup mata, membuka mata dengan perasaan cemas.
Koalisi 1 : 339
Koalisi 2 : 341
Koalisi 3 : 1** (lupa)
SMA N 8 Palembang menjadi heboh. Banyak yang menyesali kekalahan kami. Tidak peduli dengan penyesalan mereka, merekalah pembuat penyesalan itu. Yang menyebalkan adalah mendengar teman-teman yang pro dengan koalisi kami justru tidak menyontreng atau bahkan menyontreng koalisi lain dengan alasan, mereka yakin kami pasti menang.
Ternyata 2 suara itu sangat berarti. Kami kalah tipis. Apapun itu namanya, kalah telak ataupun kalah tipis, tidak ada bedanya. Intinya adalah kalah.


