Senin, 29 Oktober 2012

Satu bulan di kota Bandung tak ubahnya seperti hari-hari yang menimbun kepedihan bagiku. Aroma angin yang kuhirup pagi ini merasuk tajam ke dalam tubuh. Hawa dingin mengalir bersama darah menambah pilu di hati. Temaram warna langit menggambarkan kekalutan dalam hatiku. Wajah itu seketika melintas di mataku. Senyum terakhir yang kulihat darinya hari itu, bagaikan sembilu yang mengiris-iris perasaanku.

***

Meski dia teman sekelasku, aku tidak terpikir akan “berteman” dengannya. Hingga akhirnya dia mendekatiku dengan manisnya kemudian meluluhlantakan hatiku. Sejak saat itu, hidupku berubah menjadi drama cinta yang indah dengan episode-episode yang selalu aku nantikan. Perasaan yang sering disebut orang cinta itu pun tumbuh begitu saja karena sikapnya yang menyiratkan balasan atas perasaanku.
Semua berjalan begitu saja, mengalir bagai air. Aku menikmatinya—bahkan sangat menikmatinya. Hingga saatnya waktu menuntutku dan dirinya untuk menjauh. Waktu berlalu dengan cepat dan aku lupa untuk bertanya sesuatu, apa dia memiliki perasaan yang sama denganku? Sayangnya waktu tidak mengizinkan aku sedetikpun untuk mengatakan sesuatu kepadanya.

Tiga tahun berlalu, kudengar dia sudah bersama yang lain. Namun, tak kusangka jika ketiga tokoh utama cerita ini—aku, dia dan kekasihnya—terperangkap dalam sebuah kotak yang bernama sekolah. Aku sudah berusaha sekeras mungkin untuk keluar menembus sisi-sisinya, namun asaku tak cukup kuat. Aku menyerah dan mulai menyadari satu hal, episode baru dalam hidupku selanjutnya tidak akan seindah dulu. Kemanapun aku pergi, selama aku masih berada dalam kotak yang sama dengan dia dan kekasihnya, selamanya mereka akan tetap melukai pandanganku.



Hari demi hari yang aku lewati berjalan seperti yang aku duga. Setiap harinya aku harus menyaksikan langsung kemesraan dia dan kekasihnya. Bahkan orang-orang di sekitarku begitu mendambakan hubungan yang mereka jalani. Telingaku selalu memanas--tak pernah tahan mendengar komentar orang-orang itu tentang bagaimana dia dan kekasihnya menjalani kisah kasih hingga bertahan lama. Setiap saat itu pula aku bertanya pada diriku sendiri, harus berapa lama lagi aku mengalami episode menyakitkan seperti ini?
Sesungguhnya aku cemburu. Dia orang pertama dan satu-satunya yang mampu membuatku cemburu. Tapi, apa cemburu masih ada gunanya bagi orang ketiga sepertiku? Orang yang tidak mempunyai hak apapun untuk cemburu. Memangnya apa yang bisa aku lakukan atas kecemburuanku?
Karena ketidakberdayaanku, dengan terpaksa aku membiarkan mereka menginjak-injak perasaanku. Mau tidak mau, aku menerima takdirku untuk bersedih di atas kebahagiaan mereka. Kenapa kini dia seenaknya bermain dengan hatiku? Padahal dulu dia yang selalu menjaga hatiku dengan hati-hati.
“Harusnya aku yang bersamamu!” batinku. Aku kesal. Aku geram. Kekasihnya telah merebut dia dariku. Kekasihnya telah mengambil dia dariku. Kekasihnya telah menyingkirkanku dengan telak. Aku tersingkir bahkan sebelum sampai menggandeng tangannya.
Aku menyesal! Aku menyesal karena dulu tidak mengatakan yang sejujurnya padanya. Aku menyesal karena tidak seharusnya aku melihatnya bersama yang lain. Aku menyesal karena aku yang seharusnya mendampinginya, bukan kekasihnya. Aku menyesal karena itu semua hanya penyesalan.

Dan di antara itu semua, sesungguhnya yang paling menyesakan untukku adalah saat dia menyapaku, saat dia sedia membantuku, juga saat dia menatapku. Tatapannya berbeda. Tatapan itu berbicara—mengatakan sesuatu yang tidak bisa aku tahu apa itu. Sampai saat ini, aku masih menebak-nebak apa yang ia katakan melalui matanya. Dari tatapannya, aku mengira dia memiliki perasaan yang sama denganku. Aku mengira dia memintaku menunggu. Aku mengira dia memohon agar aku tidak berharap padanya. Aku mengira dia memintaku melupakannya. Apapun itu, semakin kuterka semakin aku tidak yakin dengan kesimpulanku sendiri. Semuanya semakin tidak nyata untukku. Apa iya dia juga mencintaiku? Pertanyaan itulah yang masih tidak terjawab sampai saat ini. Dia tidak mengaku, dan aku tidak bertanya.
Kini, lima tahun sudah aku hidup dalam cinta yang seperti ini. Sebentar lagi aku akan menutup lembaran terakhirku di masa putih abu-abu. Aku rasa ini saatnya aku mengungkapkan perasaanku kepadanya. Aku hanya ingin mengatakan, tanpa mau tahu satu katapun darinya. Oleh karena itu, aku menulis surat ini.

Mungkin kamu terheran-heran dengan maksud pemberianku ini. Aku hanya ingin memberitahumu sesuatu. Tolong sempatkan membaca ini.
Apa kamu masih ingat lima tahun lalu? Saat kita terasa sangat dekat, saat kamu belum mengenal dia. Ya, mungkin sejak saat itu aku sudah salah mengartikan kebaikanmu, salah mengartikan perhatianmu, salah mengartikan kedekatan kita, dan salah sudah mencintaimu.
Maafkan aku untuk itu. Maafkan jika pengakuanku ini berlebihan. Maafkan jika pengakuanku ini tidak pada waktunya. Aku tidak bermaksud mengusik hidupmu. Aku tidak bermaksud mengganggu hubunganmu dengannya. Aku hanya tidak ingin mengulangi penyesalanku dahulu, saat kamu terlanjur menjauh sebelum aku mengungkapkan perasaanku.
Mungkin caraku jujur dengan memberikan surat ini adalah salah bagimu. Tapi aku tidak tahu cara lain yang lebih tepat untuk mengatakannya. Karena aku tidak ingin ada orang lain yang mengetahui tentang rahasia hatiku, tentang kita.
Aku tidak tahu apa cinta ini akan tetap ada nantinya, atau justru cinta ini yang akan mempertemukan kita lagi di masa depan. Aku harap, jika nanti kita bertemu kembali, kamu tidak akan melupakanku dan tetap menjadi dirimu yang pernah aku kenal.
Kini berjanjilah padaku, kamu akan selalu bahagia dengannya. Aku tahu, kamu tidak memilih orang yang salah. Aku tahu kamu baik—begitupun dengannya. Kalian pantas mendapatkan satu sama lain.
Dan aku… aku akan baik-baik saja.

Ini memang pilihanku. Aku memang tidak cukup berani untuk mendengar sesuatu dari mulutnya. Aku terlalu takut untuk mendengar kejujuran darinya yang mungkin akan semakin menyakitkanku. Sehingga aku lebih memilih tidak mengetahui kebenaran yang mungkin akan menjadi beban untukku di lain waktu. Terbalas ataupun tidak, keduanya sama-sama tidak akan baik untukku.
"Haaaahhh," aku menarik nafas panjang.
"Kenapa kisah cintaku harus seperti ini?!" tanyaku pada diri sendiri. Dia hadir di dua waktu dalam hidupku, namun tidak satu kalipun dia menjadi milikku.
Kupikir cintaku dulu sudah mati, rupanya ini cinta mati. Aku tidak pernah tahu kalau cintaku padanya sebesar ini. Namun sebesar apapun cintaku ini, aku harus segera sadar bahwa dia memang sudah termiliki dan tidak untuk kumiliki. Aku harus sadar bahwa memang ada cinta yang hanya boleh disimpan, dinikmati dan direlakan.
“Sebentar lagi aku akan menyudahinya!” tegasku pada diri sendiri. Aku meyakini diriku sendiri untuk mengikhlaskannya. Aku harus mengikhlaskan sesuatu yang tidak bisa aku miliki, bukan memaksakan diri untuk memiliki. Memang sudah waktunya aku melepaskannya.
Keesokan harinya, aku memberikan surat itu kepadanya. Semuanya berjalan seperti yang aku inginkan.
“Aku harap kamu mau membaca ini. Hanya kamu yang boleh membaca ini, jangan ada yang lain,” pintaku padanya seraya tersenyum. Masih dengan kebingungan di wajahnya, aku berlalu meninggalkannya.
Senyum tipis melengkung di bibirku. Seketika hatiku merasa lega. Aku seperti baru saja melepaskan segala ganjalan dalam hatiku. Aku tidak tahu apa dia mau meluangkan waktu untuk membacanya atau tidak. Tapi aku yakin, dia pasti melakukannya untukku.


***

Ah! Kenangan itu terputar lagi di memoriku! Aku berusaha membuang kenangan itu. Namun, seketika itu juga aku tersadar, kenangan itu akan tetap tersimpan rapi di hatiku. Kenangan itu telah mengakar kuat di hatiku, bahkan kedua tanganku tak sanggup untuk mencabutnya.
Aku tahu, aku tidak pernah benar-benar melupakannya. Tapi aku tidak pernah tahu kalau dia sebegitu indahnya di hatiku. Apa aku harus menyebutnya sebagai belahan jiwaku?
Seketika silau matahari yang sudah tinggi beranjak dari peraduan membuat diriku terlonjak. Aku tidak boleh membiarkan diriku terbuai kenangan itu. Aku pergi jauh kesini untuk memulai hidup baru dan membangun semua mimpi-mimpiku. Aku pergi jauh kesini untuk meninggalkan kisah pilu antara aku, dia dan kekasihnya. Aku pergi jauh kesini untuk membenahi hatiku yang berantakan. Aku pergi jauh kesini untuk bertemu orang-orang baru. Aku yakin ada orang lain di luar sana yang akan membantuku menata hatiku kembali. Aku yakin aku akan menemukan dia yang lain—yang akan memberi warna baru dalam episode hidupku selanjutnya.

[re-write Proyek 14: Dongeng Patah Hati GagasMedia]

Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates & MyBloggerThemes