Cerpen: Aku, Dia dan Kekasihnya
Satu bulan di kota Bandung tak ubahnya seperti hari-hari
yang menimbun kepedihan bagiku. Aroma angin yang kuhirup pagi ini merasuk tajam
ke dalam tubuh. Hawa dingin mengalir bersama darah menambah pilu di hati. Temaram
warna langit menggambarkan kekalutan dalam hatiku. Wajah itu seketika melintas
di mataku. Senyum terakhir yang kulihat darinya hari itu, bagaikan sembilu yang
mengiris-iris perasaanku.
***
Meski dia teman sekelasku, aku tidak terpikir akan
“berteman” dengannya. Hingga akhirnya dia mendekatiku dengan manisnya kemudian meluluhlantakan hatiku. Sejak saat itu, hidupku berubah menjadi drama cinta yang indah dengan episode-episode yang selalu aku nantikan. Perasaan yang sering disebut orang cinta itu pun tumbuh begitu saja karena sikapnya yang menyiratkan balasan atas perasaanku.
Semua berjalan begitu saja, mengalir bagai air. Aku menikmatinya—bahkan
sangat menikmatinya. Hingga saatnya waktu menuntutku dan dirinya untuk menjauh. Waktu berlalu dengan cepat dan aku lupa untuk bertanya sesuatu, apa dia
memiliki perasaan yang sama denganku? Sayangnya waktu tidak mengizinkan aku sedetikpun untuk mengatakan
sesuatu kepadanya.
Tiga tahun berlalu, kudengar
dia sudah bersama yang lain. Namun, tak kusangka jika ketiga tokoh utama cerita ini—aku, dia dan kekasihnya—terperangkap dalam
sebuah kotak yang bernama sekolah. Aku sudah berusaha sekeras mungkin untuk keluar
menembus sisi-sisinya, namun asaku tak cukup kuat. Aku menyerah dan mulai menyadari satu hal, episode baru dalam hidupku selanjutnya tidak akan seindah dulu. Kemanapun aku pergi, selama aku masih berada dalam kotak yang sama dengan dia dan kekasihnya, selamanya mereka akan tetap melukai pandanganku.
Hari demi hari yang aku lewati berjalan seperti yang aku duga. Setiap
harinya aku harus menyaksikan langsung kemesraan dia dan kekasihnya. Bahkan orang-orang di sekitarku begitu mendambakan hubungan yang mereka jalani. Telingaku selalu memanas--tak pernah tahan mendengar komentar orang-orang itu tentang bagaimana dia dan kekasihnya menjalani kisah kasih hingga bertahan lama. Setiap saat itu pula aku
bertanya pada diriku sendiri, harus berapa lama lagi aku mengalami episode menyakitkan seperti
ini?
Sesungguhnya aku cemburu. Dia orang pertama dan
satu-satunya yang mampu membuatku cemburu. Tapi, apa cemburu masih ada gunanya
bagi orang ketiga sepertiku? Orang yang tidak mempunyai hak apapun untuk
cemburu. Memangnya apa yang bisa aku lakukan atas kecemburuanku?
Karena ketidakberdayaanku, dengan terpaksa aku membiarkan mereka menginjak-injak
perasaanku. Mau tidak mau, aku menerima takdirku untuk bersedih di atas kebahagiaan mereka. Kenapa kini dia seenaknya bermain dengan hatiku? Padahal
dulu dia yang selalu menjaga hatiku dengan hati-hati.
“Harusnya aku yang bersamamu!” batinku. Aku kesal. Aku geram. Kekasihnya
telah merebut dia dariku. Kekasihnya telah mengambil dia dariku. Kekasihnya
telah menyingkirkanku dengan telak. Aku tersingkir bahkan sebelum sampai
menggandeng tangannya.
Aku menyesal! Aku menyesal karena dulu tidak mengatakan
yang sejujurnya padanya. Aku menyesal karena tidak seharusnya aku melihatnya
bersama yang lain. Aku menyesal karena aku yang seharusnya mendampinginya,
bukan kekasihnya. Aku menyesal karena
itu semua hanya penyesalan.
Dan di antara itu semua, sesungguhnya yang paling menyesakan untukku adalah saat dia menyapaku, saat dia sedia membantuku, juga saat dia menatapku. Tatapannya berbeda. Tatapan
itu berbicara—mengatakan sesuatu yang tidak bisa aku tahu apa itu. Sampai saat
ini, aku masih menebak-nebak apa yang ia katakan melalui matanya. Dari tatapannya, aku mengira dia memiliki perasaan yang sama denganku. Aku
mengira dia memintaku menunggu. Aku
mengira dia memohon agar aku tidak berharap padanya. Aku mengira dia memintaku melupakannya. Apapun itu, semakin
kuterka semakin aku tidak yakin dengan kesimpulanku sendiri. Semuanya semakin
tidak nyata untukku. Apa iya dia juga mencintaiku? Pertanyaan itulah yang
masih tidak terjawab sampai saat ini. Dia tidak mengaku, dan aku tidak
bertanya.
Kini, lima tahun sudah aku hidup dalam cinta yang seperti
ini. Sebentar lagi aku akan menutup lembaran terakhirku di masa putih abu-abu.
Aku rasa ini saatnya aku mengungkapkan perasaanku kepadanya. Aku hanya ingin
mengatakan, tanpa mau tahu satu katapun darinya. Oleh karena itu, aku menulis
surat ini.
Mungkin kamu
terheran-heran dengan maksud pemberianku ini. Aku hanya ingin memberitahumu
sesuatu. Tolong sempatkan membaca ini.
Apa kamu masih
ingat lima tahun lalu? Saat kita terasa sangat dekat, saat kamu belum mengenal dia. Ya, mungkin sejak saat itu aku sudah salah mengartikan kebaikanmu, salah mengartikan
perhatianmu, salah mengartikan kedekatan kita, dan salah sudah mencintaimu.
Maafkan aku
untuk itu. Maafkan jika pengakuanku ini berlebihan. Maafkan jika pengakuanku
ini tidak pada waktunya. Aku tidak
bermaksud mengusik hidupmu. Aku tidak bermaksud mengganggu hubunganmu
dengannya. Aku hanya tidak ingin mengulangi penyesalanku dahulu, saat kamu
terlanjur menjauh sebelum aku mengungkapkan perasaanku.
Mungkin caraku
jujur dengan memberikan surat ini adalah salah bagimu. Tapi aku tidak tahu cara
lain yang lebih tepat untuk mengatakannya. Karena aku tidak ingin ada orang
lain yang mengetahui tentang rahasia hatiku, tentang kita.
Aku tidak tahu
apa cinta ini akan tetap ada nantinya, atau justru cinta ini yang akan
mempertemukan kita lagi di masa depan. Aku harap, jika nanti kita bertemu
kembali, kamu tidak akan melupakanku dan tetap menjadi dirimu yang pernah aku
kenal.
Kini berjanjilah
padaku, kamu akan selalu bahagia dengannya. Aku tahu, kamu tidak memilih orang
yang salah. Aku tahu kamu baik—begitupun dengannya. Kalian pantas mendapatkan
satu sama lain.
Dan aku… aku
akan baik-baik saja.
Ini memang pilihanku. Aku memang tidak cukup berani untuk mendengar sesuatu dari mulutnya. Aku terlalu takut untuk mendengar kejujuran darinya yang mungkin akan semakin menyakitkanku. Sehingga aku lebih memilih tidak mengetahui kebenaran yang mungkin akan menjadi beban untukku di lain waktu. Terbalas ataupun tidak, keduanya sama-sama tidak akan baik untukku.
"Haaaahhh," aku menarik nafas panjang.
"Kenapa kisah cintaku harus seperti ini?!" tanyaku pada diri sendiri. Dia hadir di dua waktu dalam hidupku, namun tidak satu kalipun dia menjadi milikku.
Kupikir cintaku dulu sudah mati, rupanya ini cinta mati. Aku tidak pernah tahu kalau cintaku padanya sebesar ini. Namun sebesar apapun cintaku ini, aku harus segera sadar bahwa dia memang sudah termiliki dan tidak untuk kumiliki. Aku harus sadar bahwa memang ada cinta yang hanya boleh disimpan, dinikmati dan direlakan.
"Kenapa kisah cintaku harus seperti ini?!" tanyaku pada diri sendiri. Dia hadir di dua waktu dalam hidupku, namun tidak satu kalipun dia menjadi milikku.
Kupikir cintaku dulu sudah mati, rupanya ini cinta mati. Aku tidak pernah tahu kalau cintaku padanya sebesar ini. Namun sebesar apapun cintaku ini, aku harus segera sadar bahwa dia memang sudah termiliki dan tidak untuk kumiliki. Aku harus sadar bahwa memang ada cinta yang hanya boleh disimpan, dinikmati dan direlakan.
“Sebentar lagi aku akan menyudahinya!” tegasku pada diri
sendiri. Aku meyakini diriku sendiri untuk mengikhlaskannya. Aku
harus mengikhlaskan sesuatu yang tidak bisa aku miliki, bukan memaksakan diri
untuk memiliki. Memang sudah waktunya aku melepaskannya.
Keesokan harinya, aku memberikan surat itu kepadanya. Semuanya
berjalan seperti yang aku inginkan.
“Aku harap kamu mau membaca ini. Hanya kamu yang boleh
membaca ini, jangan ada yang lain,” pintaku padanya seraya tersenyum. Masih
dengan kebingungan di wajahnya, aku berlalu meninggalkannya.
Senyum tipis melengkung di bibirku. Seketika hatiku
merasa lega. Aku seperti baru saja melepaskan segala ganjalan dalam hatiku. Aku
tidak tahu apa dia mau meluangkan waktu untuk membacanya atau tidak. Tapi aku
yakin, dia pasti melakukannya untukku.
***
Ah! Kenangan itu terputar lagi di memoriku! Aku berusaha
membuang kenangan itu. Namun, seketika itu juga aku tersadar, kenangan itu akan
tetap tersimpan rapi di hatiku. Kenangan itu telah mengakar kuat di hatiku,
bahkan kedua tanganku tak sanggup untuk mencabutnya.
Aku tahu, aku tidak pernah benar-benar melupakannya. Tapi
aku tidak pernah tahu kalau dia sebegitu indahnya di hatiku. Apa aku harus
menyebutnya sebagai belahan jiwaku?
Seketika silau matahari yang sudah tinggi beranjak dari
peraduan membuat diriku terlonjak. Aku tidak boleh membiarkan diriku terbuai
kenangan itu. Aku pergi jauh kesini untuk memulai hidup baru dan membangun
semua mimpi-mimpiku. Aku pergi jauh kesini untuk meninggalkan kisah pilu antara
aku, dia dan kekasihnya. Aku pergi jauh kesini untuk membenahi hatiku yang
berantakan. Aku pergi jauh kesini untuk bertemu orang-orang baru. Aku yakin ada
orang lain di luar sana yang akan membantuku menata hatiku kembali. Aku yakin aku
akan menemukan dia yang lain—yang akan memberi warna baru dalam episode hidupku selanjutnya.
[re-write Proyek 14: Dongeng Patah Hati GagasMedia]
[re-write Proyek 14: Dongeng Patah Hati GagasMedia]
.jpg)
