Jumat, 19 April 2013

Mungkin teman-teman tahu kalau gue sekolah di SMA N 8 Palembang. Tapi gue rasa nggak semuanya tahu kalau gue pernah gagal di salah satu SMA unggulan berbasis teknologi di Palembang. Ada yang tahu sekolah yang gue maksud?

Gue emang nggak pernah kepikiran untuk sekolah di sekolah gue saat ini. Pada saat gue SMP gue justru mengidam-idamkan sekolah unggulan tersebut. Gue mati-matian untuk ikut tes PSB Mandiri disana. Namun, keinginan gue itu mendapat tentangan keras dari orangtua gue. Bahkan orangtua gue nggak mengiyakan untuk sekedar mengizinkan gue ikut tes.

Dasarnya gue emang keras kepala. Tanpa sepengetahuan orangtua gue, gue dan Windy juga bersama satu orang teman lagi, nekat pergi ke SMA tersebut untuk mengambil formulir pendaftaran. Belum apa-apa perjuangan gue sudah diuji karena pendaftaran pada hari itu sudah ditutup. Padahal, perlu kalian ketahui kalau gue harus menempuh perjalanan sekitar satu jam dengan bis, dan masih harus jalan kaki sekitar satu kilometer lebih untuk bisa sampai di sekolah tersebut.

Tidak mau berhenti, keesokan paginya gue kembali kesana. Gue harus izin sekolah. Pada saat itu gue harus ngasih tahu papa gue karena SMP gue nggak mau ngasih izin tanpa didampingi orangtua. Tidak banyak komentar, papa gue menuruti keinginan gue.
Malamnya, saat mengisi formulir, barulah mama gue tahu kalo gue beneran nekat ikut tes di SMA tersebut. Mama gue sempet kaget karena nggak nyangka gue bisa senekat itu.

Mulai dari situ, gue mengikuti tahap demi tahap dengan sepengetahuan orangtua gue. Ya, yang gue tahu mereka tahu kalo gue ikut tes. Apakah mereka pada saat itu benar-benar mengizinkan atau nggak, sampai saat ini gue nggak tahu jawabannya.

Tahap pertama yang harus gue ikutin adalah seleksi administrasi, yang mana gue harus memenuhi kelengkapan surat-menyurat dan nilai rapor SMP. Beberapa hari kemudian gue kembali ke sekolah tersebut untuk melihat pengumuman dan mengambil nomor tes berikutnya jika lulus. Saat melihat papan pengumuman, ternyata nggak perlu waktu lama karena nama gue ada di halaman pertama yang tertempel. Setelah mengambil nomor tes berikutnya, gue pulang dengan gembira dan tidak sabar untuk tes berikutnya, Tes Potensi Akademik.

Di tahap kedua gue harus bangun subuh dan berangkat dari rumah sejak pukul setengah enam, mengingat jarak yang memang jauh. Pada hari itu gue memang berangkat dengan semangat, sekalipun harus bangun pagi-pagi buta. Tapi bagaimana kalau harus setiap hari? Tiba-tiba hal itu terbesit di benak gue. Apa mungkin gue sanggup menjalani hari-hari yang mengharuskan gue pergi subuh dan pulang sore selama tiga tahun?
Namun kemudian gue sadar kalau bukan itu yang seharusnya gue pikirkan pada saat itu. Gue hanya perlu mengerjakan soal yang akan diberikan dengan baik dan lulus ke tahap berikutnya.

Lima hari berikutnya gue kembali untuk melihat hasil. Di tengah perjalanan gue baru sadar kalau ternyata gue nggak bawa nomor tes untuk ditukarkan kalau-kalau gue lulus. Gue nggak pernah kepikiran kalau gue bisa seceroboh ini. Gue nggak pernah berpikir kalau gue harus kembali ke rumah saat gue sudah menempuh setengah perjalanan. Oleh karena itu gue putuskan untuk meneruskan perjalanan. Seenggaknya gue harus tahu dulu gue lulus atau nggak.

Tiba disana pukul dua siang, gue langsung ikut kerumunan yang mencari nama mereka di papan pengumuman. Gue mencari nama gue beberapa saat dan berhasil gue temukan di lembar pertama. Gue lulus tahap kedua. Itu artinya gue harus menukarkan nomor tes gue. Dan gue hanya punya waktu sekitar satu setengah jam sebelum pengambilan nomor ditutup pukul empat.
Gue pulang dan kembali lagi ke sekolah tersebut, bahkan tanpa sempat istirahat. Gue udah nggak bisa berpikir waras. Hanya harapan yang menyemangati gue pada saat itu. Yang gue tahu gue harus dapet nomor tes berikutnya!

Setelah menempuh hari yang panjang itu, tibalah gue pada tahap terakhir, yaitu tes wawancara. Pada tahap ini sepertinya tim penyeleksi hanya memfokuskan penilaian pada kesanggupan siswa dan orangtua untuk mengikuti peraturan dan pembiayaan di sekolah tersebut. Ini yang memberatkan gue. Karena gue sendiri nggak yakin apakah gue dan orangtua sanggup memenuhinya. Gue hanya berharap mereka bisa memberi gue kesempatan, mengingat perjuangan gue yang sudah sejauh ini.

Sampailah di hari penentuan, ternyata gue benar-benar hanya diizinkan untuk mengikuti tes. Gue harus puas dengan amplop tipis tanpa formulir pendaftaran ulang. YA, GUE GAGAL. Bahkan nggak untuk cadangan sekalipun.

Perjalanan pulang yang biasanya bisa gue lewati tanpa beban, hari itu terasa sangat berat. Gue udah nggak punya harapan yang dulu menyemangati gue. Dada gue sesak, ingin memuntahkan semua kekesalan. Air mata kekecewaan sudah di pelupuk mata, meminta untuk ditumpahkan. Sayangnya semua itu harus bisa gue tahan. Gue harus bisa menutupi semua rasa kecewa gue di hadapan orang-orang yang sedang bahagia atas kelulusan mereka.

"Tiket habis saat kamu berada tepat di depan loket. Hidup memang begitu, selalu kacau di detik terakhir." (Marshmallow Cokelat)

Terkadang gue nggak habis pikir, kenapa perjuangan yang udah gue lewati nggak cukup untuk buat gue lulus. Tapi sekarang gue sudah paham, kalau keberhasilan nggak cuma butuh usaha, tapi juga butuh doa, keberuntungan, dan... restu orangtua.

Beberapa kali, gue bertemu dengan siswa berseragam sekolah tersebut dan gue hanya bisa tersenyum teringat perjuangan gue pada saat itu. Semua kesakitan itu berubah menjadi sesuatu yang indah untuk dikenang. Gue bangga bisa melewatinya. Dan orangtua gue, pada akhirnya tetap membanggakan anaknya, sekalipun gue hanya mampu sampai tahap kedua.

"Kegagalan dalam melangkah bukanlah suatu kerugian." - Deddy Corbuzier

Ya, begitu banyak kegagalan yang sudah gue alami. Dan gue tahu itu bukanlah kerugian, karena nyatanya gue bisa hidup lebih baik di kehidupan selanjutnya. Sekarang... gue sedang menunggu waktu yang tepat untuk keberhasilan gue.

Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates & MyBloggerThemes