Sabtu, 19 April 2014

Judul               : Touché Alchemist
Penulis             : Windhy Puspitadewi
Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN              : 978-602-03-0335-2
Tebal               : 224 halaman
Terbit              : Maret 2014
Harga              : Rp. 48.000,-

Hiro Morrison, anak genius keturunan Jepang-Amerika, tak sengaja berkenalan dengan Detektif Samuel Hudson dari Kepolisian New York dan putrinya, Karen, saat terjadi suatu kasus pembunuhan. Hiro yang memiliki kemampuan membaca identitas kimia dari benda apa pun yang disentuhnya akhirnya dikontrak untuk menjadi konsultan bagi Kepolisian New York.

Suatu ketika pengeboman berantai terjadi dan kemampuan Hiro dibutuhkan lebih dari sebelumnya. Pada saat yang sama, muncul seseorang yang tampaknya mengetahui kemampuannya. Kasus pengeboman dan perkenalannya dengan orang itu mengubah semuanya, hingga kehidupan Hiro menjadi tidak sama lagi.



Touché Alchemist adalah sekuel dari novel laris Touché. Jadi, sebelum kalian membaca novel ini ada baiknya kalau kalian membaca Touché terlebih dahulu.

Touché Alchemist merupakan novel fantasi yang mengangkat tema tentang kaum touchéTouché? Seperti apa kaum touché? Itulah kenapa saya menyarankan kalian untuk membeli keduanya dan membaca Touché terlebih dahulu.

Sebelum benar-benar meresensi novel ini, saya ingin minta maaf karena sedikit banyak saya akan membandingkan dengan novel sebelumnya--Touché, meskipun saya tahu itu tidak seharusnya saya lakukan.

---

Seperti biasanya, Windhy menggunakan sudut pandang orang ketiga dan berlatar tempat di Manhattan, New York. Saat membaca Touché Alchemist saya merasa sedang membaca buku terjemahan. Sekilas mungkin tidak terlihat bedanya dengan tulisan-tulisan Windhy sebelumnya karena memang biasanya Windhy menggunakan kata-kata semi-baku (atau apapun istilahnya), namun saya cukup menyadari adanya perbedaan (dan eksplorasi) dalam penulisan Windhy kali ini. Entah saya yang memang kurang mengenal Windhy karena belum membaca semua novelnya, atau memang baru kali ini, yang jelas hal itu membuat novel ini "berkelas"--khususnya di kategori teenlit.

Isinya jauh lebih padat (dan berat) daripada Touché. Jujur saja hal itu membuat saya sering membolak-balik halaman untuk memastikan kerelevanan cerita. Mungkin ada hubungannya juga dengan otak saya yang mungkin akan diejek "sangat-bodoh-sekali" oleh Hiro.

Selain itu, quote-quote di Touché Alchemist tidak sebanyak di Touché. Sejujurnya saya sangat menyukai quote-quote yang sering Windhy sisipkan. Namun, baiknya, hal ini membuat Touché Alchemist tidak terkesan sengaja meng-quote segala macam hal.

Peta Manhattan yang disisipkan di halaman depan buku juga sangat membantu pembaca memahami seluk-beluk kota Manhattan, New York. Peta itu juga sangat membantu pembaca memecahkan kasus yang sedang ditangani, sehingga secara tidak langsung pembaca ikut dilibatkan dalam cerita tersebut.


Selanjutnya, saya akan membahas isi ceritanya. Seperti yang saya katakan sebelumnya, novel ini jauh lebih padat (dan berat) daripada Touché. Hampir sepanjang cerita pembaca dijejeli dengan kasus-kasus kepolisian yang agak menguras pikiran (padahal tidak ikut menyelesaikan). Seperti biasanya, Windhy memikirkan penyelesaian kasus demi kasus dengan rinci. Apalagi dalam penyelesaian kasus harus berkaitan dengan kimia-kimiaan. Salutnya, Windhy melakukannya dengan porsi yang jauh lebih banyak daripada di Touché. Itu membuat saya geleng-geleng kepala dan berlipat-lipat kagum terhadap Windhy.

Sayangnya, ada beberapa kekurangan yang agak mengganggu saya. Pertama, mengenai typo yang belum apa-apa sudah ada di halaman pertama.

Kemudian, saya merasa kalau cerita ini seperti terburu-buru untuk diselesaikan (khususnya di bagian akhir) dan latar belakang kejadian/tindakan kurang kuat. Hal ini berkaitan dengan seseorang dari tokoh di Touché yang tidak menjelaskan banyak hal dan juga alasan pelaku pengeboman berantai yang bersifat personal kurang kuat mengingat tindakannya yang "mengganggu" banyak orang.

Selain itu, menurut saya kisah cinta Hiro dan Karen kurang manis, kurang diperjelas dan terlalu tiba-tiba juga. Meskipun saya menyadari tanda-tanda yang diberikan salah satunya, namun tingkat kekhawatiran yang berubah drastis dalam beberapa menit saja (dan menyadari bahwa itu adalah sesuatu seperti cinta), terasa aneh bagi saya. Bahkan, balasan perasaan dari yang satunya tidak kurang diperlihatkan, entah melalui tindakan ataupun deskripsi.

Yang terakhir, saya agak kecewa dengan sinopsisnya, atau mungkin lebih kepada saya yang tidak paham makna dibalik cerita ini (sekali lagi saya rela diejek "sangat-bodoh-sekali" oleh Hiro). Saya tidak menemukan bagian "kehidupan Hiro menjadi tidak sama lagi" seperti yang dijelaskan di sinopsis.

---

Kalau dilihat dari segi detektif-detektifan, Touché Alchemist lebih banyak dan rinci dalam memecahkan masalah. Namun secara keseluruhan, sejujurnya saya tetap lebih suka Touché. Mungkin karena subjektivitas saya yang terlanjur cinta mati dengan Touché dan berekspektasi lebih terhadap Touché Alchemist. Namun, kalian tetap harus membeli novel ini supaya kalian bisa protes kepada saya. Dan untuk yang sudah membaca Touché, kalian harus membeli novel ini supaya kalian tahu siapa tokoh di Touché yang ada di Touché Alchemist, karena novel ini seperti penegasan bahwa memang ada banyak kaum touché yang lain di belahan bumi lain.

Tidak peduli benar atau tidaknya keberadaan kaum touché di dunia nyata, yang jelas Windhy berhasil menuliskannya senyata mungkin. Saya tunggu Touché 3 kalau ada harus ada sih yang lebih menarik dan dengan kemampuan yang berbeda lagi. Dan saya berharap Windhy akan mempertemukan Indra dan Hiro di Jepang. Hihi.

9 comments

Indra itu yang bisa ngapain Kak? Aku lupa hihi.............

REPLY

I'm agree.semoga saja touche 3 ada dan pak yunus juga lebih banyak tampil hehe....

REPLY

kisah cinta di touche 1 dan 2 sama sih, meskipun cuma sedikit menyentuh kisah romansa nya tapi seru. itu yang bikin greget juga selain petunjuk dalam kasus cerita touche. tergantung sudut pandang dari setiap pembaca sih.

REPLY

Maaf ya sebelumnya kalau saya tidak sependapat dengan kakak. Kalau bagi saya, saya lebih suka cerita touche'alchemist daripada touche'. Karena menurut saya, konflik dari cerita itu sendiri lebih "greget" yang touche' alchemist daripada touche' walaupun aladan di balik pengeboman itu sendiri memang agak aneh tp bagi saya masih dapat di nalarkan. Kalau untuk konflik touche', jujur saya kurang begitu paham alasannya si bapak pengajar*lupanamanya menculik mereka. Dan rasa-rasanya saya kurang puas dengan cara si indra dkk memecahkan kasus itu. Tp untuk beberapa alasan lain saya setuju dengan pendapat kakak yang kisah cinta mereka terlalu cepat.

REPLY

Hai, siapapun kamu. Makasih ya udah mampir. Ga masalah kok kalo beda pendapat. Aku jg menganggap kalo konflik mengenai kasusnya itu good thing dan salah satu improvement dlm novel ini. Hanya saja kalo dilihat secara keseluruhan aku emang lebih suka Touché. Again, selera org beda-beda dan aku kayaknya terlanjur cinta mati sama Touché. Hehehe. Btw bentar lagi ada Touché 3 loh. Ihiy!

REPLY

Kak kalau amanat dari novel ini apa yah??

Tolong di jawab yh

REPLY

Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates & MyBloggerThemes